Selasa, 02 Juni 2015

One More Time, One More Chance (part 2)

Kereta mulai bergerak, tak lama aku tiba di stasiun Tochigi, disini sudah sangat sepi tidak ada yang berlalu lalang lagi. Apakah Akari masih menunggu di ruang tunggu? Kurasa tidak. Saat aku menuju ruang tunggu disana aku melihatnya, seorang gadis tengah duduk sendirian disana dan aku tahu siapa gadis itu, senyum muncul di wajahku, aku senang Akari masih disini dan baik-baik saja. Aku menghampirinya dan ia menatapku, tak lama ia menggenggam tanganku dan menundukan kepalanya. Kami menangis, menangis bersama, menangis bahagia karena akhirnya kami bisa bertemu kembali. Aku duduk disampingnya, Akari sudah menyiapkan makanan untukku, senang sekali rasanya karena aku sangat lapar. Sambil menyantap makanan kami berdua asik berbicara. “stasiun akan segera ditutup, diluar sedang turun salju, kalian berhati-hatilah” penjaga stasiun mengingatkan kami. “baiklah, terimakasih” jawab kami bersamaan.

            Kami pun mulai meninggalkan stasiun berjalan diatas selimut salju yang sangat tebal. Akari membawaku kesebuah pohon sakura yang sering ia lihat saat musim semi. Bersama-sama kami melihat pohon sakura itu dan tiba-tiba membawa kami pada ingatan masa lalu. “hey, bukankah ini…menyerupai salju?” ucap Akari. “ya benar” jawabku. Kami saling menatap dan tersenyum…
Saat ini, tempat kebadian, hati dan jiwa menjadi jelas bagiku.
Seakan-akan aku mengerti segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku sejak delapan belas tahun terakhir, dan… waktu yang akan datang.
Aku menjadi sangat-sangat… pedih
Kehangatan Akari, jiwanya, bagaimana aku akan memperlakukannya, akan kubawa kemana? Itu adalah sesuatu yang tidak kuketahui bahwa kami tidak dapat bersama selamanya setelah ini adalah kenyataan yang jelas-jelas terpampang
Kehidupan luas yang terbentang, waktu yang tak terbatas tak terelakan membentang di depan kita. Tapi… kegelisahan yang kualami segera meleleh dan setelah itu hanya kehangatan bibir Akari yang tersisa

            Setelah itu kami tinggal disebuah gudang kecil disamping tanah lapang, saling berbagi selimut dan certita tak terasa kami pun terlelap. Di pagi hari, aku segera menuju stasiun untuk naik kereta yang mulai beroperasi lagi. Aku dan Akari berpisah, aku tak memberikan surat itu pada Akari.

“Takaki” panggil Akari

“uhm..”

“Takaki, kau akan….” Akari tak menyelesaikan kalimatnya

“ya?”

“Takaki, kau akan baik-baik saja dari sekarang, aku yakin hal itu!” ucap Akari sambil tersenyum

“terimakasih” jawabku masih tak percaya

Pintu kereta api mulai tertutup.
Lalu aku segara berbicara kepada Akari walau pintu sudah tertutup
“Akari, kamu juga, baik-baiklah! Kami akan berkirim surat… dan menelpon juga…!”

Hanya itu yang bisa aku sampaikan padanya, walaupun aku tahu bahwa kami tidak mungkin bersama karena aku yang selalu penuh dengan keragu-raguan. Andai aku mempunyai banyak waktu atau andai aku dapat mengulang waktu aku akan merubah semuanya, andai... aku memiliki kesempatan sekali lagi. Aku hanya berdoa supaya diberi kekuatan untuk menjaganya. Hanya memikirkan hal itu, seperti biasanya aku melanjutkan melihat pemandangan diluar jendela.


Isi surat yang ku tulis untuk Akari.

Kemarin, aku bermimpi
Sebuah impian yang terjadi di waktu lalu
Dalam mimpi itu kita belum mengetahui perasaan satu sama lain
Kita berada di daerah yang luas yang tertutup salju
Lampu-lampu rumah menyebar di kejauhan, pemandangan yang mempesona
Kita berjalan dikarpet salju yang tebal, tapi tidak meninggalkan jejak sedikitpun
Dan seperti itu
“suatu hari, kita akan melihat bersama bunga sakura mekar lagi”
Kita berdua, tanpa keraguan sedikitpun

Itu yang kita pikir 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar