One More Time, One More Chance (part 1)


Kita sudah sangat dekat dan selalu bersama, apakah perasaanmu sama denganku atau hanya aku seorang diri yang merasakannya? Perasaan ini semakin kuat ketika kau berkata padaku bahwa kita tidak bisa berada di universitas yang sama. Kau menangis mengadu padaku namun apa daya aku tidak bisa menahanmu untuk pergi, aku yang saat itu sangatlah payah, yang tidak berani mengungkapkan segalanya padamu dan pada akhirnya kita harus berpisah. Kau meninggalkan ku dengan semua perasaan ini, perasaan yang masih tersusun rapih di hati.

Satu tahun berlalu semenjak kepergianmu, aku masih disini bersama kenangan kita yang dulu. Masih ku ingat ketika kita selalu pulang bersama dan melihat dua ekor anak kucing yang berada dibawah pohon saling bercanda gurau. Melihat bunga sakura yang berguguran dan makan ice cream bersama. Apa kabar kau disana, semoga kau baik-baik saja, aku masih disini menunggu kedatangan mu lagi dan kali ini aku akan mengungkapkan semuanya pada mu agar aku tidak kehilangan mu lagi.

Sesampainya dirumah aku melihat kotak surat ku terisi. Aku menghampiri dan mengambil semua surat yang ada. Setelah masuk kedalam rumah dan memastikan pintu terkunci, aku segera duduk dan mulai melihat surat-surat itu. “seperti biasa…” gumamku. Tanganku terhenti dan mataku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Surat ditanganku ini, surat dengan amplop berwarna merah muda, betuliskan From : Akari . To : Takaki. Surat ini dari Akari, Akari kau mengirm surat padaku.

Salam Takaki, aku sangat menyesal tidak menghubungimu sementara waktu. Panas sekali musim panas disini tapi masih lebih dingin dibandingkan Tokyo. Tapi memikirkan itu, aku lebih suka musim panas yang gerah di Tokyo. Aspal yang terlihat seakan-akan meleleh, gemerlap gedung-gedung pencakar langit di kejauhan dan AC yang terlalu dingin di pusat perbelanjaan dan kereta bawah tanah. Terakhir kita bertemu di upacara perpisahan sekolah menengah atas… sudah satu tahun sejak saat itu.  Hey Takaki, masihkah kau ingat diriku?

Itu adalah isi surat pertama dari Akari, aku sangat senang akhirnya dia memberi kabar padaku, aku sangat merindukannya. Setelah surat pertama itu kami saling membalas surat sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Untuk pertama kalinya setelah satu tahun, aku akan bertemu kembali dengan Akari.

Salam Takaki, aku sangat senang bahwa kita akan bertemu. Bukankah ini akan menjadi perjalanan yang panjang untukmu, aku harap kau berhati-hati. Aku akan kirim kan petunjuk padamu agar kau tidak kesulitan nanti. Aku akan menunggumu diruang tunggu stasiun pada pukul 7.

          Hari ini adalah hari dimana aku dan Akari akan bertemu. Salju mulai turun saat aku mulai berangkat dari stasiun pertama. Aku sangat tak sabar ingin bertemu dengannya. Sepanjang perjalanan selalu terlintas ingatan masa lalu kami. Aku dan Akari sudah saling kenal sejak duduk dibangku sekolah dasar, kami selalu berada diperpustakaan dari pada ditempat bermain, kami yang masih kecil dan sakit-sakitan pada waktu itu. Karena hal iu kami selalu digoda oleh teman-teman tetapi saat kami bersama semua berlalu begitu saja. Jantungku berdegup kencang, pipiku terasa panas, hari ini aku akan bertemu dengan Akari.

            Di terminal stasiun transfer, mulai ramai dengan orang-orang yang pulang ke rumah sehabis kerja, sepatu setiap orang basah karena terkena air dari salju. Udaranya menghembuskan bau yang khas dari musim salju di kota, dan dingin. Dingin, dingin sekali dan aku sudah mulai lapar tetapi aku hanya membawa uang secukupnya untuk naik kereta. Aku harus bertahan, aku harus kuat menahan dingin dan lapar ini agar aku dapat bertemu dan melihat Akari.


             Kereta berhenti akibat badai salju, sudah dua jam berlalu tanpa suara sedikit pun. Aku melihat jam, sudah menunjukan pukul setengah 9. Apakah Akari masih disana menunggu? Ini sudah lewat dari jam 7. Aku mengeluarkan surat yang akan ku berikan pada Akari. Aku melihat surat itu lagi, apakah aku akan memberikannya atau tidak perlu? Ah aku mulai putus asa, putus asa dengan kereta yang tak kunujung bergerak dan dengan semua perasaanku pada Akari. Waktu seakan mempunyai niat jahat, perlahan-lahan menjauhkanku. Aku mulai menggrtakkan gigi dan menjaga agar tak menangis adalah satu-satunya yang dapat ku lakukan. ”Akari… Tolong… Segera… kembali… Segeralah kembali kerumah!” 

Komentar