Senin, 02 Februari 2015

Doumo Arigatou (part 1)


Terimakasih.
Kata yang kita ucapkan ketika seseorang telah menolong atau membantu kita dalam hal apapun atau bentuk apapun.

Terimakasih.
Satu kata begitu sederhana tapi dapat memberikan kebahagiaan tersendiri pada banyak orang.

Terimakasih.
Untuk kamu yang telah membuatku merasakan semua ini.

Terimakasih.
Untuk dia yang selalu ada untukku disaat aku senang maupun sedih.

Terimakasih.
Untuk kalian yang selalu ada dan menemani.

            Menurutku hidup sangat tidak adil. Mengapa semua orang begitu beruntung memiliki hidup yang sempurna sedangkan aku tidak. Mereka bisa begitu bahagia saat tertawa seprti tidak ada yang harus difikirkan atau dikhawatirkan. Sering kali aku memaki hidupku sendiri. Betapa tidak menyenangkan menjadi diriku. Panggil saja aku Luna usiaku 19 tahun dan aku sangat senang menulis. Semua yang ku alami pasti akan aku tuangkan dalam sebuah tulisan atau hanya sekedar imajinasi yang ku tuangkan dalam tulisan.

“tulisanmu bagus sekali Luna, aku sangat menyukainya”

“terimakasih banyak”

“sepertinya semua yang kau tulisakan adalah kehidupanmu, hidupmu begitu menyenangkan luna”

Aku hanya bisa tersenyum saat mereka mengatakan jika hidupku ini menyenangkan. Kalian salah!!! Hidupku begitu menyedihkan. Dan semua cerita yang ku tulis tidak semuanya pernah ku alami itu hanya imajinasi saja.

            Aku memiliki beberapa teman dekat, ya sangat dekat. Berawal dari sebebuah pertemanan lalu persahabatan. Saling berbagi membuat kami menjadi semakin dekat seperti keluarga. Berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, berbagi banyak cerita. Dia adalah salah satu sahabatku, sahabat yang sangat menjengkelkan. Akira. Begitulah aku biasa memanggilnya. Sahabat yang memiliki banyak… ya tidak banyak juga, yang memiliki sedikit banyak kesamaan denganku. Karena aku yang tidak pernah memikirkan jarak antara lawan jenis yang membuatku dengan Akira juga yang lainnya begitu dekat. Dengan Akira aku bisa menceritakan banyak hal. Dengan Akira aku bisa tertawa. Dengan Akira aku bisa meluapkan semua keluh kesahku tentang Ken.

            Ken adalah orang yang sangat aku sayangi. Jika melihat Ken rasanya semangatku meningkat beribu-ribu kali lipat. Seseorang yang sangat menyebalkan tapi selalu bisa membuatku merindukannya. Tapi Ken juga yang selalu membuatku murung dan sedih karena nyatanya Ken bukan siapa-siapa dalam kehidupanku. Aku bisa menceritakan itu semua kepada Akira dan Akira selalu memiliki caranya tersendiri untuk menghiburku dan membuatku lupa tentang apa yang sedang aku alami saat itu. Selain Ken Akira pun selalu memberikan semangat kepadaku. Bukan hanya memberikan semangat tetapi dia juga tidak pernah lupa mengingatkan ku untuk menjaga kesehatan. Akira adalah sahabat yang sangat baik sekali. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu yang selama ini ada tapi tidak pernah ku lihat.

            Semenjak bertemu Ken dan Akira aku lebih mensyukuri hidup yang kumiliki sekarang. Ternyata masih banyak diluar sana bahkan teman dekat ku sendiri yang hidupnya sangat menyedihkan. Dan baru-baru ini aku mengetahui ada beberapa temanku yang iri denganku karena hidup yang ku jalani saat ini. Aku terdiam merenung. Aku tidak habis pikir dengan semua itu. Aku yang selalu mengeluh dengan hidup ku tetapi ada orang lain yang ingin sekali sepertiku. Betapa bodohnya aku ini tidak mensyukuri semua yang telah aku miliki.

Ken banyak menceritakan berbagai hal kepadaku. Aku sangat senang mendengarnya bercerita terutama saat dia menghentikan ceritanya lalu menatapku dalam-dalam dan tersenyum. Walaupun sebenarnya sampai sekarang aku tak pernah mengerti mengapa akhir-akhir ini Ken sering kali menatapku dengan tatapan seperti itu tetapi setiap Ken menatapku aku hanya bisa berjanji dalam hati “Aku tak akan meninggalkan mu. Aku akan tetap menunggu”.
Sifat Ken yang kekanak-kanakan kadang membuat ku jengkel. Sifatnya yang membuatku harus selalu mengalah dan sabar. Sifatnya selalu membuatku pusing dan bingung. Jika sudah seperti ini aku langsung menceritakan keluh kesahku kepada Akira. Akira selalu siap mendengar apapun yang akan aku ceritakan. Apapun yang aku ceritakan dia selalu bisa membuatku lupa dengan semua itu. Entah mengapa begitu mudah bagiku untuk menceritakan semua hal kepada Akira tapi sulit menceritakan kepada yang lain.

            Semakin sering kami berhubungan menjadi semakin dekat. Aku pun masih seperti biasa selalu menceritakan Ken kepada Akira sampai suatu hari sahabatku Rin mengatakan sesuatu…

“Luna kau sudah bersahabat lama dengan Akira?” Tanya Rin.

“Tentu, tetapi tidak selama persahabatan kita”

“Apakah sampai saat ini kau masih menunggu Ken?” Tanya Rin tiba-tiba.

“Iya, mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Pertanyaan Rin membuatku tertegun.

“Apa kau masih dan akan terus menunggu Ken?” Rin menegaskan pertanyaannya.

“Mmmmm, aku tidak tau Rin” Jawabku bingung.

“Apa kau tidak menyadarinya?”

“Apa?”

“Kau benar-benar tidak menyadarinya atau kau pura-pura tidak menyadarinya?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Rin”

“Luna kau dan Akira begitu dekat, aku tau kau memang mudah dan sangat dekat dengan semua laki-laki”

“Ya, lalu?”

“huft, kau ini terlalu banyak bercanda hingga sulit sekali peka dengan sekelilingmu.”

“hahahaha” Lalu aku terdiam. Bingung tepatnya.

“Akira menyukaimu Luna. Kau tahu itu?”

“Hah?”

“Akira menyukaimu. Kau tidak pernah menyadarinya atau kau tidak mau mengakuinya? Kau tau saat dia menatapmu… itu bukan tatapan biasa.”

“Ah kau ini. Tidak mungkin. Apa kau sudah gila. Kau tau kan Akira adalah sahabatku jadi tidak mungkin dia menyukaiku”

“Terserah kau saja. Yang pasti kau harus segera menyadarinya atau kau harus segera jujur kepada dirimu sendiri bahwa Akira yang selalu ada didekatmu itu menyukaimu mungkin bukan hanya menyukaimu tapi juga menyayangimu…lebih dari seorang sahabat”

“benarkah?”

“segera menyadarinya atau menyesal”

Semua yang dikatakan Rin membuatku terdiam. Terdiam bingung dan tidak percaya dengan semua itu. “Akira menyukaiku tapi bagaimana bisa…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar