Senin, 02 Februari 2015

Doumo Arigatou (part 2)

Akira menyukaimu. Kau tidak pernah menyadarinya atau kau tidak mau mengakuinya?

Bukan tidak menyadarinya, belakangan ini memang banyak perubahan dari Akira dan menurutku itu bukan perubahan yang harus diperhatikan dan dipikirkan. Tapi apa maksud Rin “atau kau tidak mau mengakuinya?”.

            Setelah percakapan dengan Rin saat itu membuatku menjadi pusing. Aku masih tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tetapi perkataan Rin kepadaku tidak membuatku berhenti berhubungan dengan Akira. Semakin jelas Akira menunjukkan semuanya kepadaku tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Jika memang benar Akira menyayangiku lalu bagaimana perasaannya disaat Ken sedang bersama ku? Astaga. Jahat sekali diriku ini. Lalu kenapa aku tidak menjaga jarak saja dengan Akira dan tetap menunggu Ken? Apa mungkin? Tidak!

Aku memang menunggu Ken selalu menunggu. Sampai akhirnya aku tidak menyadari kedatangan Akira disaat aku lelah menunggu Ken. Lalu… Astaga, sekarang aku mengerti apa yang di maksud oleh Rin. Aku memang selalu menyadari jika Akira menyukaiku tapi aku tidak ingin berlebihan menanggapinya karena dia sahabatku dan aku tidak mau mengakuinya karena…aku takut terlalu dalam nyaman bersama Akira. Tidak mungkin! Tidak Tidak Tidak. Akira adalah sahabatku dan perasaanku pun masih sama terhadap Ken. Bagaimana ini?

            Semua berjalan seperti biasanya. Semua mengalir apa adanya. Aku tidak bisa menjaga jarak dengan Akira dan itu tidak mungkin terjadi. Sabtu sore, aku memang sudah berjanji pada Rin untuk mampir kerumahnya untuk mengambil buah tangan (oleh-oleh).

“Bagaimana?” Tanya Rin tiba-tiba

“Apanya yang bagaimana?”

“Kau sudah menyadarinya?”

“Menyadari apa?”

“Akira”

“oh uhmm. Ya”

“Lalu?”

“Apa?”

“Astaga Luna, lalu bagaimana pilihanmu? Kau ingin bersama Akira atau menunggu Ken”

“Menunggu Ken”

“Hah? Apa?”

“Aku akan terus menunggu Ken”

“Luna kau ini…..”

“Jangan salah kan Ken, aku yang bodoh ingin menunggunya.”

“kau tidak pernah berubah, kau selalu seperti itu jika sudah menyayangi seseorang. Kau selalu menyakiti dirimu sendiri. Betapa beruntungnya orang yang kau sayang tapi ia tidak bisa membalas menyayangimu, itu tidak adil Luna.”

“Hheemmm”

“Pikirkan sekali lagi Luna, Akira menyayangimu dan aku tau kau juga menyayanginya walaupun mungkin… ya mungkin tidak lebih dari seorang sahabat. Tapi pasti kau bisa menyayangi Akira seperti kau menyayangi Ken”

“Oh iya aku ingin melihat foto saat kau di Thailand, pasti menyenangkan sekali bukan”

“Ah kau ini… baiklah”

Itu adalah cara satu-satunya agar Rin tidak terus-menerus membahas tentang Akira.

            Dimana dia? Aku sudah mengelilingi gedung universitas tetapi belum juga menemukan Akira. Ah itu dia. Dia sedang duduk sambil menulis. Tetapi menulis apa? Sepertinya bukan sedang mengerjakan tugas. Aku menghampiri Akira yang saat itu sedang serius-seriusnya menulis hingga tidak menyadari kehadiranku. Aku mengintip sedikit ke kertas yang sedang ditulisnya. “Kamu dan aku menjadi kita”. Hanya kalimat itu yang bisa kulihat saat itu sisanya tidak. Apa maksud tulisan itu? Akira menengok ke arah ku dan segera menyembunyikan kertas itu.

“hai Luna, aku tidak tau kau ada disini”

“hai, ya kau begitu serius hingga tidak menyadarinya”

“sudah lama?”

“apa?”

“kau sudah lama ada disini?”

“ohh, tidak, tidak, aku baru saja sampai”

Akira menghembuskan napas berat dan mengelus-ngelus dadanya.

“kau kenapa?”

“oh itu uuuhhmmm tidak, tidak, tidak apa-apa hehehe”

“Aku belum melihat Ken hari ini, kau sudah melihatnya belum?”

“belum”

“Dimana ya dia?”

“tidak tahu” .

“Kau ini kenapa sih?”

“Tidak apa-apa. Aku haus. Aku pergi dulu ya”


Dan Akira meninggalkan ku sendiri. Akira sering sekali seperti itu jika aku mulai menanyakan atau membahas Ken. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar