Wherever You Are (part 1)

    Kalian tau setiapa manusia memiliki ceritanya masing-masing? kalian tau hanya diri kita sendiri yang tau disaat kita sedih, marah, kecewa dan sebagainya? kalian tau kadang aku ingin sekali mengungkapkan apa yang ada didalam hati dan fikiran ini namun sangat sulit bagi ku untuk berbicara, mungkin dengan menulis dan mendengarkan music aku bisa jauh lebih baik dan lebih lega. Panggil saja aku Keiko, usia ku 18tahun, aku salah satu mahasiswi di salah satu universitas di Tokyo, aku senang sekali mendengarkan musik, kalian tau kenpa? Karena music bisa sedikit membuat ku tenang dan melupakan apapun yang sedang aku rasakan saat ini.  Hari ini tepat setahun yang lalu aku berpisah dengan Tomoyoki, ya begitu lah di setiap pertemuan pasti ada perpisahaan, setelah 4 tahun bersama akhirnya kami harus berpisah. Setelah perpisahan dengan Tomoyoki aku memutuskan untuk menutup rapat hati ini, kenapa? Karena, karena…. Mmmmm ya gitu pokoknya heheh, dan sekarang sudah satu tahun aku berpisah dengannya dia sudah mendapatkan pasangannya yang baru dan aku….. dan aku masih tetap sendiri disini.

      Sendiri tidak membuat ku berhenti untuk beraktifitas karena aku memiliki banyak teman dan kegiatan jadi kesendirian itu tidak akan membunuhku. Selama aku masuk kuliah di Universitas ini belum ada satu pun yang bisa membuat hati ini terbuka kembali, ya memang sempat ada beberapa yang mendekat dan dekat dengan ku namun…… mmmm ahsudahlah heheh. Sebenarnya ada seseorang yang membuatku merasa nyaman, awalnya aku tidak ingin memperdulikan perasaan itu namun aku tidak bisa memaksa perasaan itu hilang karena perasaan itu datang sendiri bukan aku yang meminta untuk datang. Namanya adalah Kazuto dia adalah senior ku, ya dia lebih tua satu tahun dari ku. Aku senang sekali jika bisa melihatnya, aku juga senang di saat dia tersenyum padaku.

Pada suatu hari……
Keiko              : “kazu kemana aja?”
Kazuto            : “ya kuliah emang kemana lagi haha”
Keiko              : “Ohhh gitu….yaudah”
Kazuto            : “ih ngambek masa, haha.”
Keiko              : “haha gak ngambek kok”
 
Dan selalu seperti itu di setiap pertemuan kami, canda dan tawa.
 
    Semakin hari semakin dekat dan aku terus berusaha untuk terus menutupi dan mengubur perasaan ini sampai pada akhirnya entah mengapa aku merasakan ada yang berbeda, apakah ini hanya perasaan ku saja atau Kazuto memang ingin menjauh dari ku. Aku jadi merasa bersalah karena memikirkan ini, “BAKA, seharusnya aku tidak boleh menyimpan perasaan padanya, seharusnya aku tidak boleh nyaman dengannya, seharusnya aku tidak boleh jatuh cinta pada Kazuto”, aku terus memaki dalam hati menyesal dengan apa yang terjadi sekarang walaupun sebenarnya belum tentu terjadi dan baru hanya perkiraan ku saja. Aku tidak seceria biasanya, bahkan aku lebih banyak diam, dan saat bertemu dengan Kazuto tidak seperti dulu lagi, tidak seperti dulu di saat aku tidak memperdulikan perasaan ini, tidak seperti dulu di saat aku belum memikirkan Kazuto akan menjauh dari ku. Apa ini? Perasaan ini? Ya, aku takut kehilangan Kazuto, sangat amat takut, tapi dia siapa? Dia bukan siapa-siapa, dia hanya sekedar teman, tapi mengapa rasa takut akan kehilangan Kazuto sangat besar, Oh Tuhan bagaimana ini perasaan ku campur aduk tak karuan.
     
      Telepon genggam ku berbunyi, oh ada pesan ternyata tapi dari siapa ya? Ternyata dari Kazuto “hey kamu kenapa?” dia bertanya seperti itu pada ku, apa kah dia memperhatikan perubahan ku kepadanya? Segera aku membalas pesan darinya “aku gapapa kok” yap aku berbohong, konyol sekali bukan, tapi tidak mungkin aku jujur padanya tentang semua ini. Hari terus berjalan dan aku terus memikirkan Kazuto, kalian tau ini menyedihkan sekali bukan, aku yang selalu memikirkannya belum tentu dia memikirkan ku hahaha. Untuk ku memikirkannya, menyebut namanya, melihat fotonya, dan mengingat pesan yang dia kirim disaat aku merasa sangat lelah dengan tugas-tugas yang sedang aku kerjakan “semangat ya Keiko sayang, jalanin aja pasti kamu bisa, jangan pernah ngeluh” itu sudah menjadi penyemangat tersendiri untuk ku, selalu ada energi yang bertambah disaat aku lelah atau tidak bersemangat.
            
        Dan hari itu pun datang, dimana dia bertanya pada teman-teman ku apa yang terjadi dengan ku sekarang, kenapa aku menjadi diam, kenpa aku menjadi berbeda tidak seperti biasanya. Karena hal itu aku menjadi tidak enak dengannya, kenapa jadi seperti ini? Kenapa harus begini? Aku hanya ingin membuang perasaan ini karena aku tau dia menyayangi orang lain, tapi kenapa? Kenapa dia menanyakan aku? Kenapa harus begini? Bukan kah jika aku menjauh atau dia yang menjauh itu jauh lebih baik, aku akan menghilangkan perasaan ini dan dia bisa mengejar orang yang dia sayangi, tapi sekarang jadi seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya, hanya pesan maaf yang dapat ku kirim tanpa memberi tau apa alasannya aku minta maaf, sebenarnya alasannya simple aku minta maaf karena telah membuat dia bingung dengan tingkah laku dan sifatku yang berubah kepadanya tapi aku tak pernah bisa mengatakan itu padanya. 

Komentar