Selasa, 02 Juni 2015

One More Time, One More Chance (part 2)

Kereta mulai bergerak, tak lama aku tiba di stasiun Tochigi, disini sudah sangat sepi tidak ada yang berlalu lalang lagi. Apakah Akari masih menunggu di ruang tunggu? Kurasa tidak. Saat aku menuju ruang tunggu disana aku melihatnya, seorang gadis tengah duduk sendirian disana dan aku tahu siapa gadis itu, senyum muncul di wajahku, aku senang Akari masih disini dan baik-baik saja. Aku menghampirinya dan ia menatapku, tak lama ia menggenggam tanganku dan menundukan kepalanya. Kami menangis, menangis bersama, menangis bahagia karena akhirnya kami bisa bertemu kembali. Aku duduk disampingnya, Akari sudah menyiapkan makanan untukku, senang sekali rasanya karena aku sangat lapar. Sambil menyantap makanan kami berdua asik berbicara. “stasiun akan segera ditutup, diluar sedang turun salju, kalian berhati-hatilah” penjaga stasiun mengingatkan kami. “baiklah, terimakasih” jawab kami bersamaan.

            Kami pun mulai meninggalkan stasiun berjalan diatas selimut salju yang sangat tebal. Akari membawaku kesebuah pohon sakura yang sering ia lihat saat musim semi. Bersama-sama kami melihat pohon sakura itu dan tiba-tiba membawa kami pada ingatan masa lalu. “hey, bukankah ini…menyerupai salju?” ucap Akari. “ya benar” jawabku. Kami saling menatap dan tersenyum…
Saat ini, tempat kebadian, hati dan jiwa menjadi jelas bagiku.
Seakan-akan aku mengerti segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku sejak delapan belas tahun terakhir, dan… waktu yang akan datang.
Aku menjadi sangat-sangat… pedih
Kehangatan Akari, jiwanya, bagaimana aku akan memperlakukannya, akan kubawa kemana? Itu adalah sesuatu yang tidak kuketahui bahwa kami tidak dapat bersama selamanya setelah ini adalah kenyataan yang jelas-jelas terpampang
Kehidupan luas yang terbentang, waktu yang tak terbatas tak terelakan membentang di depan kita. Tapi… kegelisahan yang kualami segera meleleh dan setelah itu hanya kehangatan bibir Akari yang tersisa

            Setelah itu kami tinggal disebuah gudang kecil disamping tanah lapang, saling berbagi selimut dan certita tak terasa kami pun terlelap. Di pagi hari, aku segera menuju stasiun untuk naik kereta yang mulai beroperasi lagi. Aku dan Akari berpisah, aku tak memberikan surat itu pada Akari.

“Takaki” panggil Akari

“uhm..”

“Takaki, kau akan….” Akari tak menyelesaikan kalimatnya

“ya?”

“Takaki, kau akan baik-baik saja dari sekarang, aku yakin hal itu!” ucap Akari sambil tersenyum

“terimakasih” jawabku masih tak percaya

Pintu kereta api mulai tertutup.
Lalu aku segara berbicara kepada Akari walau pintu sudah tertutup
“Akari, kamu juga, baik-baiklah! Kami akan berkirim surat… dan menelpon juga…!”

Hanya itu yang bisa aku sampaikan padanya, walaupun aku tahu bahwa kami tidak mungkin bersama karena aku yang selalu penuh dengan keragu-raguan. Andai aku mempunyai banyak waktu atau andai aku dapat mengulang waktu aku akan merubah semuanya, andai... aku memiliki kesempatan sekali lagi. Aku hanya berdoa supaya diberi kekuatan untuk menjaganya. Hanya memikirkan hal itu, seperti biasanya aku melanjutkan melihat pemandangan diluar jendela.


Isi surat yang ku tulis untuk Akari.

Kemarin, aku bermimpi
Sebuah impian yang terjadi di waktu lalu
Dalam mimpi itu kita belum mengetahui perasaan satu sama lain
Kita berada di daerah yang luas yang tertutup salju
Lampu-lampu rumah menyebar di kejauhan, pemandangan yang mempesona
Kita berjalan dikarpet salju yang tebal, tapi tidak meninggalkan jejak sedikitpun
Dan seperti itu
“suatu hari, kita akan melihat bersama bunga sakura mekar lagi”
Kita berdua, tanpa keraguan sedikitpun

Itu yang kita pikir 

One More Time, One More Chance (part 1)


Kita sudah sangat dekat dan selalu bersama, apakah perasaanmu sama denganku atau hanya aku seorang diri yang merasakannya? Perasaan ini semakin kuat ketika kau berkata padaku bahwa kita tidak bisa berada di universitas yang sama. Kau menangis mengadu padaku namun apa daya aku tidak bisa menahanmu untuk pergi, aku yang saat itu sangatlah payah, yang tidak berani mengungkapkan segalanya padamu dan pada akhirnya kita harus berpisah. Kau meninggalkan ku dengan semua perasaan ini, perasaan yang masih tersusun rapih di hati.

Satu tahun berlalu semenjak kepergianmu, aku masih disini bersama kenangan kita yang dulu. Masih ku ingat ketika kita selalu pulang bersama dan melihat dua ekor anak kucing yang berada dibawah pohon saling bercanda gurau. Melihat bunga sakura yang berguguran dan makan ice cream bersama. Apa kabar kau disana, semoga kau baik-baik saja, aku masih disini menunggu kedatangan mu lagi dan kali ini aku akan mengungkapkan semuanya pada mu agar aku tidak kehilangan mu lagi.

Sesampainya dirumah aku melihat kotak surat ku terisi. Aku menghampiri dan mengambil semua surat yang ada. Setelah masuk kedalam rumah dan memastikan pintu terkunci, aku segera duduk dan mulai melihat surat-surat itu. “seperti biasa…” gumamku. Tanganku terhenti dan mataku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Surat ditanganku ini, surat dengan amplop berwarna merah muda, betuliskan From : Akari . To : Takaki. Surat ini dari Akari, Akari kau mengirm surat padaku.

Salam Takaki, aku sangat menyesal tidak menghubungimu sementara waktu. Panas sekali musim panas disini tapi masih lebih dingin dibandingkan Tokyo. Tapi memikirkan itu, aku lebih suka musim panas yang gerah di Tokyo. Aspal yang terlihat seakan-akan meleleh, gemerlap gedung-gedung pencakar langit di kejauhan dan AC yang terlalu dingin di pusat perbelanjaan dan kereta bawah tanah. Terakhir kita bertemu di upacara perpisahan sekolah menengah atas… sudah satu tahun sejak saat itu.  Hey Takaki, masihkah kau ingat diriku?

Itu adalah isi surat pertama dari Akari, aku sangat senang akhirnya dia memberi kabar padaku, aku sangat merindukannya. Setelah surat pertama itu kami saling membalas surat sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Untuk pertama kalinya setelah satu tahun, aku akan bertemu kembali dengan Akari.

Salam Takaki, aku sangat senang bahwa kita akan bertemu. Bukankah ini akan menjadi perjalanan yang panjang untukmu, aku harap kau berhati-hati. Aku akan kirim kan petunjuk padamu agar kau tidak kesulitan nanti. Aku akan menunggumu diruang tunggu stasiun pada pukul 7.

          Hari ini adalah hari dimana aku dan Akari akan bertemu. Salju mulai turun saat aku mulai berangkat dari stasiun pertama. Aku sangat tak sabar ingin bertemu dengannya. Sepanjang perjalanan selalu terlintas ingatan masa lalu kami. Aku dan Akari sudah saling kenal sejak duduk dibangku sekolah dasar, kami selalu berada diperpustakaan dari pada ditempat bermain, kami yang masih kecil dan sakit-sakitan pada waktu itu. Karena hal iu kami selalu digoda oleh teman-teman tetapi saat kami bersama semua berlalu begitu saja. Jantungku berdegup kencang, pipiku terasa panas, hari ini aku akan bertemu dengan Akari.

            Di terminal stasiun transfer, mulai ramai dengan orang-orang yang pulang ke rumah sehabis kerja, sepatu setiap orang basah karena terkena air dari salju. Udaranya menghembuskan bau yang khas dari musim salju di kota, dan dingin. Dingin, dingin sekali dan aku sudah mulai lapar tetapi aku hanya membawa uang secukupnya untuk naik kereta. Aku harus bertahan, aku harus kuat menahan dingin dan lapar ini agar aku dapat bertemu dan melihat Akari.


             Kereta berhenti akibat badai salju, sudah dua jam berlalu tanpa suara sedikit pun. Aku melihat jam, sudah menunjukan pukul setengah 9. Apakah Akari masih disana menunggu? Ini sudah lewat dari jam 7. Aku mengeluarkan surat yang akan ku berikan pada Akari. Aku melihat surat itu lagi, apakah aku akan memberikannya atau tidak perlu? Ah aku mulai putus asa, putus asa dengan kereta yang tak kunujung bergerak dan dengan semua perasaanku pada Akari. Waktu seakan mempunyai niat jahat, perlahan-lahan menjauhkanku. Aku mulai menggrtakkan gigi dan menjaga agar tak menangis adalah satu-satunya yang dapat ku lakukan. ”Akari… Tolong… Segera… kembali… Segeralah kembali kerumah!” 

Jumat, 15 Mei 2015

ILMU BUDAYA DASAR

ILMU BUDAYA DASAR


AULIA ROSIANA (11114835)
1KA27








FAKULTAS ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Ilmu budaya dasar.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari makalah ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Bekasi, 18 April 2015
Penulis




DAFTAR ISI
Kata pengantar …………………………………………………………………………………… i
Daftar isi ………………………………………………….…………………………………...… ii
Manusia dan keindahan ………………………………………………………………………….. 1
Manusia dan Keadilan………………………………………………………………………......... 1
Manusia dan Tanggung Jawab ………………………………………………………………...… 2
Manusia dan Harapan …………………………………………………………………………… 2
Daftar pustaka……………………………………………………………………………………. 3




MANUSIA DAN KEINDAHAN
Keindahan menurut asal katanya berarti kebaikan, keindahan dalam bahasa inggris disebut “beau”, sedangkan italia disebut “bello”. Keindahan menurut luasnya pengertian ada keindahan dalam arti yang luas, keindahan dalam estetis murni, keindahan dalam arti terbatas. Keindahan itu bukan hanya keindahan pada sesuatu karya seni. Keindahan juga ada didalam diri manusia, makhluk hidup yang lainnya dan benda mati. Karena keindahan adalah sesuatu atau sebuah kebaikan maka sesuatu yang indah itu adalah hal yang baik. (The Liang Gie “Garis Besar Estetika”)
Keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat” Thomas Aquimos (1225-1274)
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian alam. Manusia hanya bisa meniru keindahan ciptaan Tuhan.

MANUSIA DAN KEADILAN
Keadilan adalah kelayakan atau kepantasan pada tindakan manusia. Setiap tindakan manusia pasti memiliki keadilan dan tidak ingin debedakan dengan manusia yang lainnya. (Aristoteles)
Keadilan adalah apabila peranan kita atau kewajian kita telah dijalankan dengan baik dan benar contohnya adalah anak sebagai anak, ayah sebagai ayah dan pemerintah sebagia pemerintah. Jika semua sudah menjalankan pernan masing-masing dengan baik maka itu sudah adil begi seluruh umat, jangan lah serakah dengan mengambil yang bukan pernan kita.  (Kong Hu Cu)
Keadilan adalah kesama rataan semua warga Negara tidak ada miskin tidak ada kaya, tidak ada kota tidak ada desa , semua menyeluruh mendapatkan kehidupan yang layak, kesetaraan hukum dan lainnya. (Sila Ke Lima Pancasila)


MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
Tanggung Jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatu yang telah terjadi dan telah diperbuat sengaja maupun tidak disengaja. Tanggung Jawab adalah cirri manusia beradab. Manusia merasa bertanggung jawab karena menyadari akibat baik atau buruknya perbuatan. Untuk mendapatkan atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Kamus  Umum Bahasa Indonesia)
Macam-macam Tanggung Jawab :
a)      Tanggung jawab terhadap diri sendiri
b)      Tanggung jawab terhadap keluarga
c)      Tanggung jawab terhadap masyarakat
d)     Tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara
e)      Tanggung jawab terhadap Tuhan

MANUSIA DAN HARAPAN  
Sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhna manusia itu ialah (Abraham Maslow) :
a)      Kelangsungan hidup.
Contoh : sandang, pangan, papan
b)      Keamanan
Contoh : seorang anak yang sejak lahir dilindungi dan diberikan rasa aman
c)      Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
Contoh :  remaja yang beranjak dewasa mempunyai harapan untuk mencintai dan dicintai
d)     Diakui lingkungan
Contoh : “aku ini anak siapa”
e)      Perwujudan cita-cita
Contoh : menigkatkan kemampuan dan bakat agar diakui keberadaannya

DAFTAR PUSTAKA

MKDU : ILMU BUDAYA DASAR. WIDYO NUGROHO & ACHMAD MUCHJI. SERI DIKTAT KULIAH 

Selasa, 17 Februari 2015

Akhir Semester Gasal

Tema : Warna Warni Gunadarma
Judul : Akhir Semester Gasal
           
Diakhir semester gasal tahun ini banyak kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa universitas gunadarma. Diantaranya UAS (ujian akhir semester) yang dilaksanakan pada 27 Januari – 11 Februari 2015. Pengambilan dan pembayaran blanko semester genap. Serta UU (ujian utama) yang berlangsung pada 17 Februari – 23 Februari 2015.
            Bagi mahasiswa aktif kegiatan tersebut merupakan kewajiban. Menjelang UAS banyak mahasiswa yang sudah mempersiapkan diri untuk menempuh ujian namun ada juga yang belum sama sekali memperispkan diri. Contoh mahasiswa yang belum atau tidak mempersiapkan dirinya adalah lupa membawa KRS, tidak memiliki alat tulis (pensil, penghapus, rautan dan pulpen), tidak tahu jadwal ujian serta ruangan ujian, dan tidak belajar. Seperti yang terlihat 15 menit sebelum memasuki ruangan ujian banyak mahasiswa yang melakukan berbagai kegiatan yaitu, membaca dan belajar, menyiapkan KRS dan alat tulis, bermain hp, mengobrol, bahkan ada yang belum sampai di depan ruang ujian. Didalam ruang ujian pun ada saja tingkah laku mahasiswa seperti, meminjam penghapus, berdiskusi (sedangkan dalam peraturan tidak boleh berdiskusi), membuat keributan (mentertawakan hal yang tidak lucu), dan mencoba mencontek.
            Selain UAS, mahasiswa juga harus membayar blanko semester genap di Bank DKI. Batas waktu pembayaran sudah tertera pada blanko. Memang terkadang ada saja mahasiswa yang mengulur-ulur waktu pembayaran, karena diblanko sudah tertera batas waktu pembayarannya jadi dianggap gampang, seharusnya membayar lebih cepat lebih baik agar mengurangi panjangnya antrian. Seperti yang terlihat antrian menuju Bank DKI mulai panjang, bahkan sudah mencapai loby. Itu artinya sudah mendekati atau sudah memasuki batas waktu pembayaran. Bagi mahasiswa yang belum memiliki uang untuk membayar sampai pada batas waktu pembayaran dapat memperpanjang atau memecah blanko pembayaran di loket PSMA. Terlihat juga panjangnya antrian mahasiswa yang ingin memperpanjang blanko diloket PSMA lantai 2 gedung J1.

            Lalu UU, ujian yang hanya terdiri dari beberapa mata kuliah (tidak sebanyak UAS). Mempunyai kartu ujian sendiri, jadi selain membawa KRS dan KTM juga harus membawa kartu ujian utama. Mengenakan pakaian yang sudah ditentukan yaitu, kemeja putih, rok dan celana bahan berwarna hitam serta sepatu tertutup. Semoga kegiatan yang sedang dilaksanakan atau sudah dilaksanakan oleh semua mahasiswa berjalan dengan lancar dan medapatkan hasil yang memuaskan. Sebenarnya masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lain seperti dibukanya pendaftaran FOUNDTASTIC 2015. Itulah kegiatan mahasiswa diakhir semester gasal tahun ini. 



Terimakasih BEM FIKTI UG & FENOM ^^ 

Senin, 02 Februari 2015

Doumo Arigatou (part 3)

Ini sudah hampir malam. Aku masih duduk disini. Berulang kali aku melihat telpon genggamku. Tidak ada pesan sama sekali. Untuk apa aku berharap Ken menghubungiku. Aku memutuskan untuk beranjak dari kursi yang kududuki sampai akhirnya telpon genggamku berbunyi. Ada pesan dari Ken. Setelah membaca pesan dari Ken aku segera menuju tempat dimana kami akan bertemu. Sesampainya disana aku masih sendiri, Ken belum sampai ternyata. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Ken tiba. Banyak hal yang kami bicarakan, seperti biasa aku selalu senang jika melihat Ken bercerita. Jam hampir menunjukan pukul 10 malam. Ken mengajakku pulang bersama, tentu aku tidak bisa menolaknya. Selama perjalanan pulang kami sesekali berbicara lalu terdiam, Ken yang sesekali menengok kebelakang lalu menatapku atau sekedar melirik melalui kaca spion motornya, dan tangan kirinya yang meraih tangan kiriku untuk digenggamnya dan tidak pernah dilepasnya selama perjalanan pulang.

            Rin terus saja mempermasalahkan apa yang menjadi pilihanku. Tapi bagaimana lagi Rin? Ini lah yang aku pilih apapun yang akan terjadi hanya aku yang tau dan hanya aku yang merasakan. Memang agak sulit untukku menjelaskan pada Akira dengan semua keadaan ini. Aku bingung harus memulai dari mana jika aku ingin membahas ini dengan Akira. Aku memutuskan untuk menuangkan semuanya kedalam sebuah tulisan, mungkin suatu saat Akira akan membacanya.





Terimakasih.


Terimakasih Akira kau sudah selalu ada untukku, selalu sabar dengan semua tingkah lakuku, selalu membuatku tertawa dan sebagainya. Aku tau kau menungguku tapi bisakah kau tidak menunggu?  Kau tau kan menunggu itu adalah hal yang sangat tidak menyenagkan. Sebenanrnya itu adalah hak mu, jika kau ingin menunggu ya mrnunggu lah dengan penuh sabar. Maaf jika mungkin selama ini kau merasa tidak pernah ku lihat. Bukan maksudku seperti itu tapi kau selalu tau dan kau tau sekali aku masih disini menunggu Ken. Mungkin suatu saat entah kapan aku pasti akan melihatmu dan menyayangimu sama seperti aku menyayangi Ken dan mungkin terlalu lama bagimu menungguku seperti itu hingga kau pergi hehe. tidak masalah bagiku jika kau pergi karena memang ini lah yang aku pilih dan mungkin penyesalan yang akan aku dapat suatu hari nanti  tapi jika aku harus jujur aku tak ingin kau pergi Akira, aku ingin kau tetap disini sebagai shabatku atau apapun itu. 


Doumo Arigatou… Akira. 









terimakasih sudah membaca. maaf jika ada kesamaan cerita,tokoh dan lainnya. Arigatou mina~ ^^ 

Doumo Arigatou (part 2)

Akira menyukaimu. Kau tidak pernah menyadarinya atau kau tidak mau mengakuinya?

Bukan tidak menyadarinya, belakangan ini memang banyak perubahan dari Akira dan menurutku itu bukan perubahan yang harus diperhatikan dan dipikirkan. Tapi apa maksud Rin “atau kau tidak mau mengakuinya?”.

            Setelah percakapan dengan Rin saat itu membuatku menjadi pusing. Aku masih tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tetapi perkataan Rin kepadaku tidak membuatku berhenti berhubungan dengan Akira. Semakin jelas Akira menunjukkan semuanya kepadaku tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Jika memang benar Akira menyayangiku lalu bagaimana perasaannya disaat Ken sedang bersama ku? Astaga. Jahat sekali diriku ini. Lalu kenapa aku tidak menjaga jarak saja dengan Akira dan tetap menunggu Ken? Apa mungkin? Tidak!

Aku memang menunggu Ken selalu menunggu. Sampai akhirnya aku tidak menyadari kedatangan Akira disaat aku lelah menunggu Ken. Lalu… Astaga, sekarang aku mengerti apa yang di maksud oleh Rin. Aku memang selalu menyadari jika Akira menyukaiku tapi aku tidak ingin berlebihan menanggapinya karena dia sahabatku dan aku tidak mau mengakuinya karena…aku takut terlalu dalam nyaman bersama Akira. Tidak mungkin! Tidak Tidak Tidak. Akira adalah sahabatku dan perasaanku pun masih sama terhadap Ken. Bagaimana ini?

            Semua berjalan seperti biasanya. Semua mengalir apa adanya. Aku tidak bisa menjaga jarak dengan Akira dan itu tidak mungkin terjadi. Sabtu sore, aku memang sudah berjanji pada Rin untuk mampir kerumahnya untuk mengambil buah tangan (oleh-oleh).

“Bagaimana?” Tanya Rin tiba-tiba

“Apanya yang bagaimana?”

“Kau sudah menyadarinya?”

“Menyadari apa?”

“Akira”

“oh uhmm. Ya”

“Lalu?”

“Apa?”

“Astaga Luna, lalu bagaimana pilihanmu? Kau ingin bersama Akira atau menunggu Ken”

“Menunggu Ken”

“Hah? Apa?”

“Aku akan terus menunggu Ken”

“Luna kau ini…..”

“Jangan salah kan Ken, aku yang bodoh ingin menunggunya.”

“kau tidak pernah berubah, kau selalu seperti itu jika sudah menyayangi seseorang. Kau selalu menyakiti dirimu sendiri. Betapa beruntungnya orang yang kau sayang tapi ia tidak bisa membalas menyayangimu, itu tidak adil Luna.”

“Hheemmm”

“Pikirkan sekali lagi Luna, Akira menyayangimu dan aku tau kau juga menyayanginya walaupun mungkin… ya mungkin tidak lebih dari seorang sahabat. Tapi pasti kau bisa menyayangi Akira seperti kau menyayangi Ken”

“Oh iya aku ingin melihat foto saat kau di Thailand, pasti menyenangkan sekali bukan”

“Ah kau ini… baiklah”

Itu adalah cara satu-satunya agar Rin tidak terus-menerus membahas tentang Akira.

            Dimana dia? Aku sudah mengelilingi gedung universitas tetapi belum juga menemukan Akira. Ah itu dia. Dia sedang duduk sambil menulis. Tetapi menulis apa? Sepertinya bukan sedang mengerjakan tugas. Aku menghampiri Akira yang saat itu sedang serius-seriusnya menulis hingga tidak menyadari kehadiranku. Aku mengintip sedikit ke kertas yang sedang ditulisnya. “Kamu dan aku menjadi kita”. Hanya kalimat itu yang bisa kulihat saat itu sisanya tidak. Apa maksud tulisan itu? Akira menengok ke arah ku dan segera menyembunyikan kertas itu.

“hai Luna, aku tidak tau kau ada disini”

“hai, ya kau begitu serius hingga tidak menyadarinya”

“sudah lama?”

“apa?”

“kau sudah lama ada disini?”

“ohh, tidak, tidak, aku baru saja sampai”

Akira menghembuskan napas berat dan mengelus-ngelus dadanya.

“kau kenapa?”

“oh itu uuuhhmmm tidak, tidak, tidak apa-apa hehehe”

“Aku belum melihat Ken hari ini, kau sudah melihatnya belum?”

“belum”

“Dimana ya dia?”

“tidak tahu” .

“Kau ini kenapa sih?”

“Tidak apa-apa. Aku haus. Aku pergi dulu ya”


Dan Akira meninggalkan ku sendiri. Akira sering sekali seperti itu jika aku mulai menanyakan atau membahas Ken. 

Doumo Arigatou (part 1)


Terimakasih.
Kata yang kita ucapkan ketika seseorang telah menolong atau membantu kita dalam hal apapun atau bentuk apapun.

Terimakasih.
Satu kata begitu sederhana tapi dapat memberikan kebahagiaan tersendiri pada banyak orang.

Terimakasih.
Untuk kamu yang telah membuatku merasakan semua ini.

Terimakasih.
Untuk dia yang selalu ada untukku disaat aku senang maupun sedih.

Terimakasih.
Untuk kalian yang selalu ada dan menemani.

            Menurutku hidup sangat tidak adil. Mengapa semua orang begitu beruntung memiliki hidup yang sempurna sedangkan aku tidak. Mereka bisa begitu bahagia saat tertawa seprti tidak ada yang harus difikirkan atau dikhawatirkan. Sering kali aku memaki hidupku sendiri. Betapa tidak menyenangkan menjadi diriku. Panggil saja aku Luna usiaku 19 tahun dan aku sangat senang menulis. Semua yang ku alami pasti akan aku tuangkan dalam sebuah tulisan atau hanya sekedar imajinasi yang ku tuangkan dalam tulisan.

“tulisanmu bagus sekali Luna, aku sangat menyukainya”

“terimakasih banyak”

“sepertinya semua yang kau tulisakan adalah kehidupanmu, hidupmu begitu menyenangkan luna”

Aku hanya bisa tersenyum saat mereka mengatakan jika hidupku ini menyenangkan. Kalian salah!!! Hidupku begitu menyedihkan. Dan semua cerita yang ku tulis tidak semuanya pernah ku alami itu hanya imajinasi saja.

            Aku memiliki beberapa teman dekat, ya sangat dekat. Berawal dari sebebuah pertemanan lalu persahabatan. Saling berbagi membuat kami menjadi semakin dekat seperti keluarga. Berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, berbagi banyak cerita. Dia adalah salah satu sahabatku, sahabat yang sangat menjengkelkan. Akira. Begitulah aku biasa memanggilnya. Sahabat yang memiliki banyak… ya tidak banyak juga, yang memiliki sedikit banyak kesamaan denganku. Karena aku yang tidak pernah memikirkan jarak antara lawan jenis yang membuatku dengan Akira juga yang lainnya begitu dekat. Dengan Akira aku bisa menceritakan banyak hal. Dengan Akira aku bisa tertawa. Dengan Akira aku bisa meluapkan semua keluh kesahku tentang Ken.

            Ken adalah orang yang sangat aku sayangi. Jika melihat Ken rasanya semangatku meningkat beribu-ribu kali lipat. Seseorang yang sangat menyebalkan tapi selalu bisa membuatku merindukannya. Tapi Ken juga yang selalu membuatku murung dan sedih karena nyatanya Ken bukan siapa-siapa dalam kehidupanku. Aku bisa menceritakan itu semua kepada Akira dan Akira selalu memiliki caranya tersendiri untuk menghiburku dan membuatku lupa tentang apa yang sedang aku alami saat itu. Selain Ken Akira pun selalu memberikan semangat kepadaku. Bukan hanya memberikan semangat tetapi dia juga tidak pernah lupa mengingatkan ku untuk menjaga kesehatan. Akira adalah sahabat yang sangat baik sekali. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu yang selama ini ada tapi tidak pernah ku lihat.

            Semenjak bertemu Ken dan Akira aku lebih mensyukuri hidup yang kumiliki sekarang. Ternyata masih banyak diluar sana bahkan teman dekat ku sendiri yang hidupnya sangat menyedihkan. Dan baru-baru ini aku mengetahui ada beberapa temanku yang iri denganku karena hidup yang ku jalani saat ini. Aku terdiam merenung. Aku tidak habis pikir dengan semua itu. Aku yang selalu mengeluh dengan hidup ku tetapi ada orang lain yang ingin sekali sepertiku. Betapa bodohnya aku ini tidak mensyukuri semua yang telah aku miliki.

Ken banyak menceritakan berbagai hal kepadaku. Aku sangat senang mendengarnya bercerita terutama saat dia menghentikan ceritanya lalu menatapku dalam-dalam dan tersenyum. Walaupun sebenarnya sampai sekarang aku tak pernah mengerti mengapa akhir-akhir ini Ken sering kali menatapku dengan tatapan seperti itu tetapi setiap Ken menatapku aku hanya bisa berjanji dalam hati “Aku tak akan meninggalkan mu. Aku akan tetap menunggu”.
Sifat Ken yang kekanak-kanakan kadang membuat ku jengkel. Sifatnya yang membuatku harus selalu mengalah dan sabar. Sifatnya selalu membuatku pusing dan bingung. Jika sudah seperti ini aku langsung menceritakan keluh kesahku kepada Akira. Akira selalu siap mendengar apapun yang akan aku ceritakan. Apapun yang aku ceritakan dia selalu bisa membuatku lupa dengan semua itu. Entah mengapa begitu mudah bagiku untuk menceritakan semua hal kepada Akira tapi sulit menceritakan kepada yang lain.

            Semakin sering kami berhubungan menjadi semakin dekat. Aku pun masih seperti biasa selalu menceritakan Ken kepada Akira sampai suatu hari sahabatku Rin mengatakan sesuatu…

“Luna kau sudah bersahabat lama dengan Akira?” Tanya Rin.

“Tentu, tetapi tidak selama persahabatan kita”

“Apakah sampai saat ini kau masih menunggu Ken?” Tanya Rin tiba-tiba.

“Iya, mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Pertanyaan Rin membuatku tertegun.

“Apa kau masih dan akan terus menunggu Ken?” Rin menegaskan pertanyaannya.

“Mmmmm, aku tidak tau Rin” Jawabku bingung.

“Apa kau tidak menyadarinya?”

“Apa?”

“Kau benar-benar tidak menyadarinya atau kau pura-pura tidak menyadarinya?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Rin”

“Luna kau dan Akira begitu dekat, aku tau kau memang mudah dan sangat dekat dengan semua laki-laki”

“Ya, lalu?”

“huft, kau ini terlalu banyak bercanda hingga sulit sekali peka dengan sekelilingmu.”

“hahahaha” Lalu aku terdiam. Bingung tepatnya.

“Akira menyukaimu Luna. Kau tahu itu?”

“Hah?”

“Akira menyukaimu. Kau tidak pernah menyadarinya atau kau tidak mau mengakuinya? Kau tau saat dia menatapmu… itu bukan tatapan biasa.”

“Ah kau ini. Tidak mungkin. Apa kau sudah gila. Kau tau kan Akira adalah sahabatku jadi tidak mungkin dia menyukaiku”

“Terserah kau saja. Yang pasti kau harus segera menyadarinya atau kau harus segera jujur kepada dirimu sendiri bahwa Akira yang selalu ada didekatmu itu menyukaimu mungkin bukan hanya menyukaimu tapi juga menyayangimu…lebih dari seorang sahabat”

“benarkah?”

“segera menyadarinya atau menyesal”

Semua yang dikatakan Rin membuatku terdiam. Terdiam bingung dan tidak percaya dengan semua itu. “Akira menyukaiku tapi bagaimana bisa…”